Istri Salehah Sangat Istimewa

Posted on

Oleh: Ustadz Muhammad Arifin Ilham

Wahai saudara-saudaraku, marilah kita simak bersama cerita mengagumkan berikut ini:

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa putera Abu Tholhah sakit. Saat itu Abu Tholhah keluar, lalu puteranya tersebut meninggal dunia. Ketika Abu Tholhah kembali, ia berkata kepada istrinya, “Apa yang dilakukan oleh puteraku?” Istrinya (Ummu Sulaim) malah menjawab, “Ia sedang dalam keadaan tenang.” Ketika itu, Ummu Sulaim pun mengeluarkan makan malam untuk suaminya dan sang suami pun memakannya. Kemudian setelah itu Abu Tholhah menyetubuhi istrinya. Ketika telah selesai memenuhi hajatnya, sang istri mengatakan kabar meninggalnya puteranya. Tatkala tiba pagi hari, Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan tentang hal itu. Rasulullah pun bertanya, “Apakah malam kalian tersebut seperti berada di malam pertama?” Abu Tholhah menjawab, “Iya.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mendo’akan, “Allahumma baarik lahumaa, Ya Allah berkahilah mereka berdua.”

Dari hubungan mereka tersebut lahirlah seorang anak laki-laki. Anas berkata bahwa Abu Tholhah berkata padanya, “Jagalah dia sampai engkau mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengannya.” Anas pun membawa anak tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ummu Sulaim juga menitipkan beberapa butir kurma bersama bayi tersebut. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mengambil anak itu lalu bersabda, “Apakah ada sesuatu yang dibawa dengan bayi ini?” Mereka berkata, “Iya, ada beberapa butir kurma.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambilnya dan mengunyahnya. Kemudian beliau ambil hasil kunyahan tersebut dari mulutnya, lalu meletakkannya di mulut bayi tersebut. Beliau melakukan tahnik dengan meletakkan kunyahan itu di langit-langit mulut bayi. Beliau pun menamakan anak tersebut dengan Abdullah. (HR Bukhari no. 5470 dan Muslim no. 2144).

Apa mutiara hikmah dan pesan yang bisa kita ambil dari kisah yang mengagumkan tersebut? Banyak sekali. Hal yang menjadi intinya adalah menunjukkan betapa istimewanya wanita yang salehah. Istri salehah sangat kuat aqidahnya sehingga tidak mudah rapuh dan cengeng walau anak kesayangannya meninggal dunia.

Istri salehah itu “muthiiah”, ketaatannya pada suaminya karena Allah sangatlah menakjubkan.

Istri salehah tidak mudah berkeluh kesah dari hal yang sepele hingga peristiwa meninggalnya anggota keluarga sekalipun.

Istri salehah senantiasa berbuat terbaik dan terindah untuk membahagiakan suaminya. Mungkin tidak terbayangkan, anak meninggal dunia tetapi ia masih bisa berdandan dan berhias untuk melayani suaminya.

Istri salehah itu pantang menjadi beban suaminya, dari sekedar bertutur kata, berkeluh kesah apalagi sampai sikap yang tidak menyenangkan hati suaminya.

Istri salehah itu “afiifah”, yaitu perawat terbaik bentuk tubuhnya dan pesolek yang hebat.

Istri salehah “gholimah” pelayan dan penggoda hebat suaminya, bahkan aktif menawarkan diri terlebih dahulu dengan rayuan dan pakaiannya.

Istri salehah itu koki, juru masak yang pandai bagi suaminya.

Istri salehah itu berjihad dengan jalan menyembunyikan lelah dirinya di hadapan suaminya.

Istri salehah sangat tahu persis hak dan kewajiban dirinya kepada suaminya tercinta.

Istri salelah itu “muskinah”, sebagai penenang jiwa, pelipur kesedihan dan pembangkit semangat suami untuk berjuang di jalan Allah SWT.

Allhahumma ya Allah berkahilah kami dengan suami, ayah, iman yang teladan dalam ketakwaan, para istri yang semua para bidadari salehah, dan anak cucu keturunan saleh salehah. Aamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *